Bantul, Javanusa—Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Fathurrahman Kamal mengingatkan kader dakwah agar memperkuat spiritualitas, kompetensi profesional, dan kemandirian di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau AI.
Fathurrahman menyampaikan pesan tersebut saat membuka Pelatihan Nasional Mubaligh Muda/Mahasiswa Muhammadiyah (PNM3) di Institut Tabligh Muhammadiyah pada 21 Oktober 2026.
Ia menilai kader dakwah perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan teknologi informasi tanpa mengabaikan pembinaan spiritual.
Menurut Fathurrahman, kecerdasan buatan berpotensi menjadi pesaing serius bagi manusia dalam bidang intelektual. Namun, ia menilai spiritualitas tetap menjadi dimensi penting yang membedakan manusia dari teknologi tersebut.
“Satu hal yang tidak pernah dimiliki oleh AI, yaitu spiritualitas. Dimensi irfani, kejernihan hati dan pengalaman spiritual sebagai bekal penting bagi kader dakwah di tengah perubahan zaman,” katanya.
Spiritualitas Menjadi Bekal Kader Dakwah
Fathurrahman menegaskan bahwa kader Muhammadiyah perlu mengembangkan kapasitas diri secara berkelanjutan. Penguasaan ilmu dan keterampilan profesional harus berjalan beriringan dengan kejernihan hati serta pengalaman spiritual.
Ia juga mengingatkan bahwa kesibukan dalam kegiatan organisasi tidak selalu menjamin proses pembinaan kader berjalan dengan baik. Menurutnya, dakwah bukan sekadar tugas atau jabatan, melainkan perintah Tuhan yang harus dijalankan secara berkesinambungan.
“Aktivitas tidak boleh menggantikan pembinaan,” katanya.
Pesan tersebut menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelaksanaan program organisasi dan pengembangan kualitas pribadi kader. Dengan demikian, aktivitas dakwah tidak hanya berorientasi pada pencapaian kegiatan, tetapi juga pertumbuhan kapasitas para pelakunya.
Fathurrahman Ingatkan Bahaya Konflik Internal
Selain menyoroti penguatan kapasitas kader, Fathurrahman mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam kehidupan organisasi. Ia meminta kader dakwah menghindari konflik ego sektoral, perebutan pengaruh, serta penggunaan lembaga Persyarikatan untuk kepentingan pribadi.
Ia menilai perbedaan pandangan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menjatuhkan rekan seperjuangan. Sebaliknya, kader perlu mengedepankan sikap adil, etika, dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
Prinsip tersebut menjadi penting agar dinamika organisasi tidak menghambat tujuan utama dakwah. Kader Muhammadiyah perlu menempatkan kepentingan dakwah di atas ambisi pribadi maupun persaingan internal.
Kepemimpinan Dakwah Harus Menguatkan Kaderisasi
Fathurrahman juga menekankan bahwa dakwah mencakup proses kaderisasi yang berkelanjutan. Proses ini tidak cukup dengan merekrut anggota atau menyelenggarakan berbagai kegiatan organisasi.
Menurutnya, kaderisasi harus mampu mendorong perkembangan diri sekaligus membantu orang lain bertumbuh. Karena itu, seorang pemimpin dakwah perlu memperhatikan kualitas manusia yang terlibat, bukan hanya keberhasilan program.
“Kepemimpinan dakwah bukan sekadar menggerakkan program, tapi juga merawat manusia,” katanya.
Ia menempatkan pembinaan manusia sebagai bagian penting dari kepemimpinan dakwah. Pendekatan tersebut diharapkan dapat melahirkan kader yang memiliki kompetensi, integritas, dan kesiapan menghadapi tantangan zaman.
PNM3 Diikuti 42 Perwakilan PTMA
Pelatihan Nasional Mubaligh Muda/Mahasiswa Muhammadiyah ini terselenggara melalui kolaborasi Majelis Tabligh dan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah bersama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Kegiatan tersebut diikuti 42 peserta yang mewakili Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA).
Melalui pelatihan ini, penguatan kompetensi, spiritualitas, dan kaderisasi menjadi aspek penting dalam menyiapkan mubaligh muda Muhammadiyah. Bekal tersebut diperlukan agar kader mampu menjalankan dakwah secara profesional, beretika, dan relevan dengan perkembangan zaman. (*)






