Industri Fesyen Muslim Global Tembus USD327 Miliar, Indonesia Genjot Ekspor ke Negara OKI

Penulis -

Sabtu, 14 Maret 2026 - 23:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Permintaan global terhadap produk fesyen muslim terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. (Foto: Kemenperin)

Permintaan global terhadap produk fesyen muslim terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. (Foto: Kemenperin)

Jakarta, Javanusa—Permintaan global terhadap produk fesyen muslim terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah menilai tren ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai produsen dan pemain penting dalam industri modest fashion dunia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan nilai konsumsi fesyen muslim dunia mencapai USD327 miliar pada 2023.

Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi USD433 miliar pada 2028, merujuk laporan State of Global Islamic Economy Report 2024/2025.

“Pertumbuhan ini menunjukkan prospek pasar modest fashion yang besar dan menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran sebagai produsen sekaligus pusat tren fesyen muslim dunia,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (13/3).

Ekspor Indonesia ke Negara OKI Naik 83 Persen

Kinerja ekspor fesyen muslim Indonesia juga menunjukkan peningkatan. Pada 2023, nilai ekspor modest fashion Indonesia ke negara anggota Organisation of Islamic Cooperation mencapai USD990 juta.

Nilai tersebut meningkat 83 persen dibandingkan tahun 2022 yang sebesar USD540 juta. Dengan capaian tersebut, Indonesia masuk dalam tujuh besar negara pengekspor fesyen ke pasar OKI.

Meski demikian, pasar ekspor fesyen ke negara-negara OKI masih didominasi oleh China, Turki, dan India.

Industri Pakaian Jadi Libatkan 1,2 Juta Pekerja

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, menyebutkan Indonesia memiliki basis industri fesyen yang cukup besar.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pada 2024 terdapat sekitar 594 ribu industri kecil pakaian jadi dengan 1,2 juta tenaga kerja.

Menurut Reni, modest fashion kini berkembang menjadi tren global yang tidak hanya diminati oleh masyarakat muslim, tetapi juga berbagai kalangan lintas budaya.

“Konsep modest fashion terus berkembang menjadi lebih inklusif, tanpa memandang agama, etnis, maupun preferensi individu,” katanya.

Baca Juga :  Bunga Citra Lestari dan Reza Rahadian Sepakat Tak Berusaha Melucu di Film Romansa Komedi Pasutri Gaje, Ini Alasannya!

Laporan SGIER juga menempatkan Indonesia pada peringkat pertama dalam ekosistem lokal yang mendukung perkembangan industri modest fashion.

Sertifikasi Halal Dinilai Tambah Daya Saing

Pemerintah juga menyiapkan kebijakan untuk memperkuat daya saing produk fesyen nasional. Salah satunya melalui kewajiban sertifikasi halal untuk produk barang gunaan, termasuk produk fesyen, yang mulai diberlakukan pada Oktober 2026.

Menurut Reni, kebijakan tersebut dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memberi nilai tambah pada produk modest fashion Indonesia di pasar global.

“Standar halal yang terintegrasi dapat menjadi keunggulan kompetitif bagi produk Indonesia, terutama untuk pasar dengan populasi muslim besar,” ujarnya.

Kolaborasi Industri dan Desainer

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kementerian Perindustrian, Budi Setiawan, menilai momentum Ramadan juga mendorong pertumbuhan industri fesyen dan ekonomi kreatif.

Ia mencontohkan kegiatan Ramadan Runway yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia sebagai ruang bagi desainer dan pelaku industri untuk menampilkan karya serta mengikuti perkembangan tren modest fashion.

“Kegiatan seperti ini menjadi wadah ekspresi kreatif bagi desainer dan pelaku industri sekaligus memperkuat ekosistem fesyen nasional,” kata Budi. (*/red)

Berita Terkait

Empat Pasar di Pariaman Dapat Tambahan Anggaran Rehabilitasi Rp4,1 Miliar
Gebyar Pajak 2026, Mahyeldi Dorong Warga Sumbar Makin Taat Bayar Pajak
Rp115 Miliar Disiapkan untuk Pulihkan 38.000 UMKM Terdampak Bencana di Sumbar
SPKLU Center Pertama di Sumbar Diresmikan, Langkah Baru Menuju Green Province  
FIFA ASEAN CUP 2026 Jadi Berkah UMKM, Sehari Bisa Raup Omzet hingga Rp 1 Juta Sehari
Pertamina Cek Kualitas Pertalite di Padang, Sampel Diuji hingga Laboratorium Lemigas
Resmikan Al Harris Umrah, Fadly Amran Dorong Penguatan Ekonomi Haji dan Umrah
Pertalite Diduga Tercampur Material Asing, Pertamina Periksa 6 SPBU di Padang dan Agam

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:43 WIB

BMKG Maritim Teluk Bayur Peringatkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Sumbar 9–12 Oktober

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:01 WIB

Perkuat Ketahanan Pangan, Pemko Padang Dorong Budidaya Ikan RAS dan Mina Padi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:44 WIB

Padang Mulai Uji Teknologi AI untuk Petakan Kerusakan Infrastruktur Pascabencana

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:18 WIB

Kabut Asap Selimuti Padang, BPBD Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:27 WIB

Penumpang KA Lembah Anai Terlibat Perselisihan, KAI Ingatkan Etika di Kereta

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:22 WIB

Kafilah Bungus Teluk Kabung Siap Hadapi MTQN ke-42 Kota Padang, Persiapan Capai 85 Persen

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:17 WIB

Padang Utara Siapkan 72 Kafilah, Targetkan Juara Umum MTQN ke-42 Kota Padang

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:11 WIB

KAI Divre II Sumbar Tutup 30 Perlintasan Liar, Keselamatan di Jalur Kereta Diperketat

Berita Terbaru