Javanusa.com—Gatal setelah olahraga sering dianggap sebagai hal biasa. Padahal, kondisi ini dapat muncul karena berbagai faktor, mulai dari peningkatan aliran darah hingga reaksi alergi yang memerlukan perhatian medis.
Memahami penyebabnya menjadi langkah penting agar keluhan tidak semakin mengganggu aktivitas.
Rasa gatal saat atau setelah berolahraga dapat muncul di berbagai bagian tubuh, seperti kulit kepala, wajah, leher, dada, bahu, ketiak, hingga lipatan siku.
Meski umumnya hanya berlangsung sementara, pada sebagian orang sensasi tersebut bisa terasa cukup intens.
Berikut lima penyebab gatal setelah olahraga yang paling sering terjadi.
1. Aliran Darah Meningkat Saat Berolahraga
Peningkatan aliran darah menjadi penyebab paling umum munculnya rasa gatal, terutama pada orang yang baru mulai rutin berolahraga.
Ketika aktivitas fisik berlangsung, jantung memompa lebih banyak darah dan oksigen menuju otot yang bekerja. Kondisi ini membuat pembuluh darah kapiler melebar sehingga merangsang ujung saraf dan memunculkan sensasi gatal. Biasanya, keluhan akan mereda dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah olahraga selesai.
2. Tubuh Melepaskan Histamin
Olahraga juga dapat memicu pelepasan histamin dalam tubuh. Penelitian yang dipublikasikan dalam Exercise and Sport Sciences Reviews menyebutkan bahwa histamin membantu melebarkan pembuluh darah agar pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan meningkat.
Namun, peningkatan kadar histamin tersebut juga dapat memicu rasa gatal. Pada sebagian besar orang, gejala akan berkurang seiring turunnya kadar histamin, meski pada beberapa kasus keluhannya bisa lebih berat.
3. Cholinergic Urticaria
Gatal setelah olahraga juga dapat menandakan cholinergic urticaria, yaitu reaksi kulit yang muncul ketika suhu tubuh meningkat dan tubuh berkeringat.
Kondisi ini ditandai dengan bentol-bentol kecil berwarna kemerahan yang terasa gatal. Pemicunya adalah peningkatan asetilkolin, neurotransmiter yang berperan dalam respons tubuh terhadap panas.
Selain olahraga, mandi air panas atau berada di lingkungan bersuhu tinggi juga dapat memicu reaksi serupa.
4. Exercise-Induced Urticaria
Penyebab lain yang perlu diwaspadai ialah exercise-induced urticaria, yaitu biduran yang dipicu aktivitas fisik.
Kondisi ini lebih sering muncul setelah olahraga berat, seperti berlari atau mendaki, terutama ketika cuaca terlalu panas maupun dingin.
Selain rasa gatal, penderitanya dapat mengalami sakit kepala, kram perut, sesak napas, hingga pembengkakan pada wajah, lidah, atau tangan. Gejala tersebut memerlukan perhatian medis karena dapat berkembang menjadi reaksi alergi yang lebih serius.
5. Dermatitis Kontak Akibat Peralatan Olahraga
Tidak semua rasa gatal berasal dari respons tubuh terhadap olahraga. Pada beberapa orang, keluhan muncul akibat dermatitis kontak, yaitu iritasi kulit karena bersentuhan dengan bahan tertentu.
Lateks pada matras yoga, kain berbahan spandeks, sepatu, atau kaus kaki tertentu dapat memicu ruam dan gatal setelah berolahraga, terutama pada individu yang memiliki kulit sensitif.
Cara Mengatasi dan Mencegah Gatal Setelah Olahraga
Saat rasa gatal muncul, hindari menggaruk kulit karena dapat memperparah iritasi dan meningkatkan risiko infeksi.
Beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi sekaligus mencegah gatal setelah olahraga:
-
- Gunakan pakaian olahraga yang ringan dan mudah menyerap keringat, seperti bahan campuran katun dan poliester.
- Nyalakan kipas angin atau AC saat berolahraga di dalam ruangan agar suhu tubuh tetap stabil.
- Hindari berolahraga di bawah terik matahari atau saat cuaca sangat panas.
- Kompres area yang gatal dengan kompres dingin atau gunakan salep yang memberikan sensasi sejuk.
- Penuhi kebutuhan cairan tubuh sebelum, selama, dan setelah berolahraga.
- Segera mandi dan membersihkan keringat setelah selesai beraktivitas untuk mengurangi risiko iritasi kulit.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Gatal setelah olahraga umumnya tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya. Namun, segera konsultasikan ke dokter apabila keluhan berlangsung terus-menerus, sering kambuh, atau disertai ruam berat, pembengkakan, sesak napas, maupun gejala lain yang mengarah pada reaksi alergi serius.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya sehingga penanganan dapat diberikan secara tepat. (*/red)






