Javanusa.com—Melamun saat menghadapi tekanan berat tidak selalu berarti pikiran sedang kosong. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat mengalami disosiasi, yaitu respons psikologis ketika pikiran seolah mengambil jarak dari pengalaman yang terasa terlalu menyakitkan atau mengancam.
Kondisi tersebut dapat muncul setelah pengalaman traumatis maupun ketika seseorang menghadapi stres ekstrem. Karena sering terjadi secara tidak sadar, orang yang mengalaminya terkadang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami disosiasi.
Apa Itu Disosiasi?
Disosiasi dapat menjadi mekanisme perlindungan ketika seseorang menghadapi tekanan emosional atau fisik yang berat. Respons ini memungkinkan seseorang mengambil jarak dari pengalaman yang terasa sulit untuk ditanggung.
Pada sebagian orang, respons tersebut dapat terbentuk sejak masa kanak-kanak. Ketika muncul kembali, pemicunya tidak selalu berupa kejadian besar. Suara, sentuhan, bau, rasa, atau tempat tertentu juga dapat membangkitkan respons yang berkaitan dengan pengalaman traumatis.
Episode disosiatif dapat berlangsung singkat. Namun, pada situasi penuh tekanan, kondisi tersebut juga dapat berlangsung lebih lama.
Seseorang mungkin merasa seperti sedang mengamati dirinya dari luar tubuh. Sebagian lainnya mengalami kesulitan mengikuti percakapan, kehilangan kesadaran terhadap waktu, atau kesulitan mengingat kejadian tertentu.
Dilansir dari YourTango, ada sejumlah teknik sederhana yang dapat membantu seseorang kembali terhubung dengan kondisi saat ini ketika gejala mulai muncul.
1. Berikan Pelukan Satu Tangan pada Diri Sendiri
Salah satu cara sederhana untuk menenangkan diri adalah memberikan pelukan pada tubuh sendiri. Letakkan satu tangan pada lengan yang berlawanan dan pertahankan sentuhan tersebut selama beberapa saat.
Teknik ini dapat membantu memberikan sensasi aman ketika tubuh mulai merespons stres. Tarik napas perlahan sambil menyadari posisi tubuh dan lingkungan sekitar.
Disosiasi pada dasarnya dapat berkembang sebagai strategi menghadapi pengalaman yang terasa tidak tertahankan. Karena itu, membangun kembali rasa aman menjadi bagian penting ketika seseorang berusaha kembali fokus pada saat ini.
2. Ucapkan Kata Menenangkan
Pilih satu kata pendek yang terasa menenangkan. Kata tersebut dapat berupa kata netral atau kata yang memiliki makna pribadi.
Ucapkan kata itu secara perlahan sambil memusatkan perhatian pada suara dan pernapasan. Anda juga dapat memejamkan mata selama kurang dari satu menit jika situasinya memungkinkan.
Teknik berbasis pengulangan kata atau mantra telah diteliti sebagai salah satu cara yang berpotensi membantu mengurangi stres secara langsung.
Kebiasaan ini juga dapat mengalihkan perhatian dari pikiran atau sensasi yang membuat seseorang semakin kehilangan kontak dengan keadaan sekitar.
3. Gunakan Afirmasi Sambil Menyentuh Lengan
Afirmasi sederhana dapat digunakan untuk mengarahkan perhatian kembali pada diri sendiri. Ucapkan kalimat positif dengan suara yang terdengar jelas sambil mengusap salah satu lengan secara perlahan.
Contohnya, Anda dapat mengatakan, “Saya aman” atau “Saya bisa menjaga diri saya sendiri.”
Kalimat lain seperti “Saya layak mendapatkan perhatian” juga dapat digunakan. Pilih pernyataan yang terasa realistis dan memberikan rasa aman.
Pemicu disosiasi setiap orang dapat berbeda. Beberapa di antaranya meliputi suara pertengkaran, sentuhan tertentu, tempat yang terasa familiar, serta bau atau rasa yang mengingatkan pada pengalaman tidak menyenangkan.
Pada seseorang yang pernah mengalami kecelakaan, kekerasan, kebakaran, atau kejadian traumatis lainnya, tubuh dan pikiran dapat memberikan respons yang membuat kejadian terasa tidak nyata.
Respons tersebut dapat muncul sebagai bagian dari reaksi terhadap trauma. Namun, jika disosiasi berulang dan mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian profesional.
4. Coba Meditasi Berjalan
Berjalan juga dapat menjadi cara sederhana untuk melakukan grounding ketika stres mulai meningkat. Teknik ini dapat dilakukan saat berjalan di rumah, berbelanja, mengurus anak, atau berada di sela-sela aktivitas.
Mulailah dengan memperhatikan setiap langkah. Saat melangkah dengan kaki kiri, katakan dalam hati, “Saya aman.”
Kemudian, saat kaki kanan melangkah, katakan, “Saya sudah sampai di rumah.” Ulangi secara perlahan sambil memusatkan perhatian pada gerakan kaki dan kondisi tubuh.
Teknik tersebut membantu mengarahkan perhatian pada pengalaman yang sedang berlangsung. Dengan begitu, pikiran memiliki titik fokus yang lebih konkret.
5. Gunakan Sensasi Dingin untuk Kembali ke saat Ini
Sensasi dingin dapat membantu mengalihkan perhatian pada pengalaman fisik yang sedang berlangsung. Salah satu contoh yang disebutkan dalam materi adalah mengunyah es batu.
Jika menggunakan cara ini, perhatikan sensasi dingin dan tekstur yang muncul. Fokuskan perhatian pada apa yang benar-benar dirasakan saat itu.
Selain sensasi fisik, kenali pula tanda-tanda ketika disosiasi mulai terjadi. Misalnya, Anda merasa melihat diri sendiri dari luar tubuh atau seolah mengamati diri dari tempat lain.
Tanda lainnya berupa kesulitan memahami pembicaraan, kehilangan kesadaran terhadap waktu, serta tidak mampu mengingat sebagian kejadian yang baru berlangsung.
Pada sebagian orang, upaya untuk menghindari pengalaman tidak menyenangkan juga dapat muncul melalui penggunaan alkohol atau zat tertentu. Kondisi seperti ini membutuhkan perhatian lebih serius.
Kapan Disosiasi Perlu Ditangani Profesional?
Disosiasi setelah peristiwa traumatis yang baru terjadi dapat berkurang seiring waktu. Meski demikian, membicarakan pengalaman tersebut dapat membantu seseorang memproses kejadian yang dialaminya.
Jika pengalaman disosiatif terus berulang, terutama ketika berkaitan dengan trauma masa lalu, konsultasi dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.
Disosiasi dapat muncul bersama kecemasan, PTSD, dan sejumlah kondisi kesehatan mental lainnya. Penanganannya bergantung pada penyebab dan kondisi masing-masing individu.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan profesional kesehatan mental adalah Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR). Terapi tersebut membantu seseorang memproses pengalaman traumatis secara lebih adaptif.
Pada akhirnya, disosiasi bukan sekadar kebiasaan melamun. Respons tersebut dapat menjadi cara pikiran menghadapi tekanan yang berat.
Jika kondisi ini sering muncul atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan mengandalkan teknik grounding saja. Mencari bantuan dari tenaga kesehatan mental yang terlatih dapat membantu menemukan penyebab dan penanganan yang sesuai. (*)






