Javanusa.com—Bunga melati tak hanya dikenal karena aroma khas dan penggunaannya dalam berbagai tradisi. Tanaman dengan nama ilmiah Jasminum ini juga mengandung sejumlah senyawa yang berpotensi mendukung kesehatan.
Bunga melati selama ini lebih populer sebagai tanaman hias dan bahan pewangi. Industri kosmetik juga memanfaatkan aromanya yang kuat dan khas.
Dalam penggunaannya, bunga melati sering dicampurkan ke dalam teh hijau atau teh hitam. Masyarakat juga dapat mengolahnya dengan cara merebus bunga, lalu meminum airnya.
Potensi manfaat bunga melati berkaitan dengan sejumlah senyawa yang terkandung di dalamnya. Beberapa di antaranya berupa senyawa aromatik, antioksidan, dan minyak atsiri.
Senyawa aromatik meliputi benzil alkohol, linalool, indole, serta benzil asetat. Sementara itu, katekin, polifenol, dan flavonoid berperan sebagai senyawa antioksidan.
Minyak atsiri menjadi salah satu komponen yang memberikan aroma kuat pada bunga melati.
1. Berpotensi menjaga kesehatan mulut
Bunga melati memiliki kandungan katekin yang berpotensi membantu menjaga kesehatan rongga mulut. Senyawa tersebut termasuk kelompok antioksidan.
Katekin juga diketahui dapat menghambat bakteri Streptococcus mutans. Bakteri tersebut berperan dalam pembentukan plak dan perkembangan karies gigi.
Meski demikian, penggunaan melati tidak menggantikan perawatan gigi. Tetap lakukan sikat gigi secara rutin, gunakan obat kumur bila diperlukan, dan periksakan gigi kepada dokter.
2. Memiliki potensi dalam pencegahan kanker
Kandungan polifenol dalam bunga melati juga menarik perhatian dalam penelitian terkait kanker. Senyawa antioksidan dapat membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.
Kerusakan sel akibat stres oksidatif dapat berkontribusi terhadap berbagai proses biologis yang berkaitan dengan perkembangan kanker.
Namun, bukti tersebut belum cukup untuk menjadikan bunga melati sebagai pencegah kanker. Penelitian lebih lanjut pada manusia masih diperlukan, termasuk untuk menentukan dosis dan cara penggunaan yang aman.
3. Berpotensi mendukung kesehatan jantung
Antioksidan dalam bunga melati juga dikaitkan dengan potensi perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular.
Radikal bebas dapat memicu stres oksidatif yang berperan dalam berbagai proses penyakit. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan gangguan pembuluh darah, penyakit jantung, dan stroke.
Meski memiliki potensi tersebut, konsumsi melati tidak dapat menggantikan pola hidup sehat maupun terapi medis untuk penyakit kardiovaskular.
4. Membantu memberikan efek relaksasi
Aroma bunga melati juga banyak digunakan untuk menciptakan suasana rileks. Sejumlah komponen aromatiknya, termasuk benzil alkohol, linalool, dan indole, diduga berkontribusi terhadap efek tersebut.
Menghirup aroma melati dapat memengaruhi respons sistem saraf dan membantu tubuh memasuki kondisi lebih tenang. Efek ini berpotensi membantu mengurangi stres dan kecemasan ringan.
Namun, manfaat tersebut tidak berarti bunga melati dapat menggantikan terapi untuk depresi atau gangguan kesehatan mental lainnya.
5. Berpotensi meningkatkan gairah seksual
Aroma melati juga kerap dikaitkan dengan peningkatan gairah seksual. Penelitian mengenai nilai farmakologis dan medis melati menunjukkan adanya hubungan antara aroma tertentu dan respons seksual.
Aroma yang menyenangkan dapat memengaruhi suasana hati serta respons fisiologis seseorang. Karena itu, minyak atau aroma melati kerap digunakan dalam aromaterapi.
Meski demikian, klaim bahwa melati secara langsung meningkatkan aliran darah ke organ genital dan meningkatkan fungsi seksual masih membutuhkan bukti klinis yang lebih kuat.
6. Berpotensi membantu masalah kulit
Minyak bunga melati memiliki sejumlah sifat yang menarik dalam penggunaan perawatan kulit. Kandungan tertentu di dalamnya memiliki aktivitas antiseptik, antiradang, dan antijamur.
Karena karakteristik tersebut, minyak melati secara tradisional digunakan untuk membantu merawat kulit, menjaga kelembapan, dan mendukung proses pemulihan luka.
Beberapa penggunaan juga dikaitkan dengan masalah kulit seperti psoriasis, eksim, panu, dan folikulitis. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi kulit dan bukti klinis yang tersedia.
7. Berpotensi membantu mengatasi sariawan
Bunga melati juga memiliki aktivitas antijamur yang menarik untuk diteliti dalam kaitannya dengan masalah rongga mulut.
Salah satu penelitian menunjukkan aktivitas terhadap Candida albicans, yaitu jamur yang dapat menyebabkan infeksi pada mulut. Kondisi tersebut berbeda dari sebagian besar sariawan biasa yang tidak selalu disebabkan oleh infeksi jamur.
Karena penelitian tersebut menggunakan kombinasi beberapa bahan, seperti kayu manis, rosemary, dan cengkih, peneliti belum dapat memastikan kontribusi melati secara individual.
Cara menggunakan bunga melati
Cara penggunaan melati berbeda sesuai dengan tujuan pemanfaatannya. Untuk perawatan rongga mulut, misalnya, masyarakat dapat menggunakan air rebusan bunga melati sebagai obat kumur setelah cairan tersebut dingin.
Sebagian orang juga mengonsumsi air rebusan bunga melati atau teh yang mengandung melati. Sementara itu, minyak melati dapat digunakan secara topikal dengan mengoleskan sedikit minyak pada kulit.
Penggunaan minyak esensial perlu dilakukan secara hati-hati. Sebaiknya minyak tidak langsung digunakan dalam jumlah banyak pada kulit karena dapat memicu iritasi atau reaksi alergi.
Waspadai efek samping bunga melati
Meski berasal dari tanaman, bunga melati tidak otomatis bebas risiko. Penggunaan atau konsumsi pada sebagian orang dapat menimbulkan efek samping.
Beberapa keluhan yang mungkin muncul meliputi gangguan pencernaan, peradangan saluran pencernaan, reaksi alergi, iritasi atau infeksi kulit, asma, hingga sesak napas.
Selain itu, sebagian besar manfaat kesehatan bunga melati masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Bukti dari penelitian laboratorium atau penggunaan tradisional belum selalu dapat disamakan dengan efektivitas terapi pada manusia.
Karena itu, jangan menjadikan bunga melati sebagai pengganti pengobatan medis. Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakannya untuk tujuan pengobatan, terutama jika memiliki penyakit tertentu atau sedang mengonsumsi obat. (*)






