Kurang Tidur Bisa Picu Gangguan Mental, Ini Dampaknya pada Emosi dan Fungsi Otak

Penulis -

Kamis, 18 Juni 2026 - 21:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi seorang wanita tertidur di atas tumpukan kertas. (Foto: Pexels)

Ilustrasi seorang wanita tertidur di atas tumpukan kertas. (Foto: Pexels)

Jakarta, Javanusa—Banyak orang rela mengurangi waktu tidur demi menyelesaikan pekerjaan atau memenuhi tuntutan aktivitas harian.

Namun, kebiasaan tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan mental dan fungsi otak.

Para ahli menilai hubungan antara tidur dan kesehatan mental bersifat timbal balik. Gangguan tidur dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang.

Sebaliknya, tekanan emosional dan stres juga sering menjadi penyebab seseorang sulit mendapatkan tidur yang cukup. Berikut ini dampak negatif kurang tidur bagi kesehatan mental.

1. Kurang Tidur Mengganggu Stabilitas Emosi

Salah satu dampak yang paling cepat muncul akibat kurang tidur adalah perubahan emosi. Ketika waktu istirahat berkurang, aktivitas amygdala, bagian otak yang berperan mengatur respons emosional, dapat meningkat hingga 60 persen.

Peningkatan aktivitas tersebut membuat otak lebih sulit mengendalikan emosi. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah marah, sensitif, atau bereaksi berlebihan terhadap situasi tertentu.

Selain itu, kurang tidur juga berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi. Kondisi ini dapat muncul sebagai akibat dari pola tidur yang buruk, sekaligus menjadi faktor yang memperburuk gangguan depresi yang sudah ada.

2. ADHD dan Gangguan Bipolar

Kurang tidur juga memiliki keterkaitan dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan hiperaktivitas dan defisit atensi. Gejala ADHD sering menyerupai dampak kurang tidur, seperti kesulitan berkonsentrasi, mengantuk pada siang hari, hiperaktif, dan perubahan suasana hati yang cepat.

Kondisi tersebut dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Dalam banyak kasus, gejala ADHD dan gangguan tidur muncul secara bersamaan sehingga memerlukan penanganan yang tepat.

Sementara itu, pada pengidap gangguan bipolar, kurang tidur dapat memperparah episode mania. Kondisi ini juga berpotensi memicu kelelahan berat yang membuat durasi tidur menjadi lebih panjang ketika memasuki fase depresi.

Baca Juga :  Waktu Terbaik untuk Olahraga Saat Diet, Benarkah Pagi Hari Lebih Efektif Bakar Lemak?
3. Risiko Gangguan Kecemasan Meningkat

Gangguan kecemasan menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang sering berhubungan dengan kualitas tidur yang buruk. Kurangnya waktu istirahat dapat meningkatkan risiko serangan panik, mimpi buruk, serta memperburuk kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi.

Karena itu, menjaga pola tidur yang sehat menjadi bagian penting dalam upaya mengelola kecemasan dan menjaga kesehatan mental secara keseluruhan.

4. Dampak Kurang Tidur pada Fungsi Otak

Kurang tidur juga memengaruhi kinerja otak. Seseorang umumnya dianggap mengalami kurang tidur jika hanya beristirahat kurang dari enam jam dalam semalam.

Saat kondisi ini berlangsung, otak harus bekerja lebih keras untuk melawan rasa kantuk yang terus muncul. Akibatnya, efisiensi kerja otak menurun dan kemampuan berpikir menjadi terganggu.

Salah satu dampak yang sering dirasakan adalah brain fog atau pikiran berkabut. Kondisi ini membuat seseorang sulit fokus, lambat mengambil keputusan, dan merasa tidak mampu berpikir secara jernih.

Selain itu, kurang tidur dapat mengganggu kemampuan mengingat. Gangguan tersebut bisa terjadi pada memori jangka pendek maupun memori jangka panjang. Padahal, proses penyimpanan dan penguatan memori berlangsung saat seseorang tidur.

Tidak hanya itu, minimnya waktu istirahat juga dapat menurunkan kemampuan mengendalikan perilaku serta menyusun rencana. Kondisi ini membuat seseorang lebih impulsif dan kurang efektif dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pentingnya Menjaga Kualitas Tidur

Tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan fungsi otak. Oleh karena itu, seseorang yang mengalami gangguan tidur berkepanjangan sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Dengan menjaga kualitas dan durasi tidur yang optimal, risiko berbagai gangguan psikologis maupun penurunan fungsi kognitif dapat diminimalkan. (*/red)

Baca Juga :  Inovasi Permen dari Buah Gambir Raih Medali Emas di ACE Malaysia 2023

Berita Terkait

Perkuat Pariwisata Kesehatan Sumbar, Fadly Amran Dorong Digitalisasi Herbal
Lem Gigi Palsu: Jangan Asal Pilih, Ini Cara Menggunakannya dengan Aman
Jerawat Pasir di Wajah Sulit Hilang? Ini 5 Cara Mengatasinya dengan Aman
Jantung Koroner: Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Menurunkan Risikonya
Cacar Air pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Kapan Harus ke Dokter
Cara Membaca Hasil USG 4D Saat Hamil, Ini Istilah dan Angka yang Perlu Dipahami
Rutin Minum Jus Wortel, Apa Benar Bisa Menyehatkan Mata dan Kulit?
Toilet Jongkok atau Duduk, Mana yang Lebih Sehat? Ini Posisi yang Disarankan

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 23:02 WIB

Alee Rilis Single Apa Kabarmu?, Angkat Rindu yang Kembali Setelah Perpisahan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:08 WIB

BLINGOUTKID Rilis Single Freak Like Me, Kisah Keberanian Menjadi Diri Sendiri

Kamis, 8 Oktober 2026 - 20:03 WIB

satchi! Rilis All the Almost, Lagu Indie-Folk tentang Cinta yang Tak Kunjung Terungkap

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:29 WIB

Setelah 18 Tahun, Ifan Resmi Mundur dari GOVINDA

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:47 WIB

Gavendri Rilis Album Kedua Sympathy/Empathy, Rekam Pergulatan Hidup sebagai Orang Dewasa

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Patras Jalani Tur Jepang Perdana, Bawa Cha-Cha Boo! ke Empat Panggung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:16 WIB

Tak Harus Menang untuk Bahagia, Lafa Pratomo dan Ari Lesmana Hadirkan Juara Dua

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:22 WIB

Sinopsis Film Uniform: Cinta di Balik Seragam, Kisah Perwira Muda Bongkar Kematian Kekasih

Berita Terbaru