Sering Pamer Kemesraan di Media Sosial, Benarkah Pasangan Lebih Bahagia?

Penulis -

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pasangan romantis. (Foto: AI Generate)

Ilustrasi pasangan romantis. (Foto: AI Generate)

Javanusa.com—Media sosial membuat banyak pasangan mudah membagikan momen romantis kepada publik. Namun, seringnya unggahan mesra tidak selalu menjadi ukuran bahwa sebuah hubungan berjalan bahagia.

Foto berdua, ucapan romantis, hingga video kebersamaan kini menjadi bagian dari aktivitas banyak pasangan di media sosial. Sebagian orang membagikannya sebagai bentuk ekspresi kasih sayang.

Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai alasan di balik kebiasaan tersebut. Apakah pasangan yang sering mengunggah kemesraan memang lebih bahagia, atau hanya ingin mendapatkan respons positif dari pengguna lain?

Sejumlah penelitian mengenai penggunaan media sosial menunjukkan adanya hubungan antara intensitas aktivitas di platform digital dengan kondisi psikologis seseorang.

Salah satu penelitian menggunakan Facebook untuk melihat hubungan antara keterikatan seseorang dengan pasangannya dan perilaku di media sosial. Hasilnya menunjukkan bahwa individu dengan hubungan yang erat tidak selalu merasa perlu menampilkan seluruh kehidupan pribadinya kepada publik.

Penggunaan media sosial secara berlebihan juga berkaitan dengan berbagai persoalan kesehatan mental, termasuk depresi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan interpersonal.

Karena itu, aktivitas pasangan di media sosial tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk menilai kualitas hubungan mereka.

Kebahagiaan tidak selalu membutuhkan pengakuan publik

Pasangan yang sering menampilkan kemesraan di media sosial bisa saja menikmati hubungan yang sehat. Namun, kebiasaan tersebut juga dapat berkaitan dengan kebutuhan mendapatkan validasi dari lingkungan sosial.

Sebaliknya, pasangan yang jarang mengunggah kehidupan pribadi belum tentu memiliki hubungan yang kurang bahagia. Mereka mungkin memilih menikmati kedekatan secara lebih privat tanpa merasa perlu membuktikannya kepada orang lain.

Bagi sebagian pasangan, kebahagiaan justru terasa lebih bermakna ketika mereka dapat menjalaninya tanpa terus memikirkan bagaimana orang lain memberikan respons.

Baca Juga :  Benarkah Sering Berhubungan Intim Bisa Menunda Menopause? Ini Fakta Penelitiannya
Konflik hubungan sebaiknya tidak menjadi tontonan

Perselisihan pasangan juga kerap muncul di ruang digital. Contohnya terlihat dari saling membalas komentar, mengunggah sindiran, atau menggunakan lagu dan kutipan tertentu untuk menyampaikan kekecewaan.

Cara tersebut tidak selalu membantu menyelesaikan masalah. Sebaliknya, konflik yang semula bersifat pribadi dapat berubah menjadi konsumsi publik.

Pasangan yang mampu menjaga privasi hubungan biasanya memilih menyelesaikan persoalan secara langsung. Mereka tidak menjadikan media sosial sebagai tempat untuk mencari pembenaran atau menyampaikan masalah pribadi.

Terlalu sibuk mengunggah bisa mengurangi kualitas momen

Membagikan satu atau dua momen bahagia bersama pasangan tentu bukan persoalan. Media sosial memang dapat menjadi sarana untuk berbagi pengalaman dengan keluarga, teman, maupun orang terdekat.

Masalah dapat muncul ketika aktivitas mengabadikan dan mengunggah setiap momen justru mengganggu kebersamaan itu sendiri. Perhatian pasangan bisa teralihkan karena sibuk mengambil foto, membuat video, atau memantau respons dari pengguna lain.

Padahal, menikmati waktu bersama tidak selalu membutuhkan dokumentasi. Ada pasangan yang memilih menyimpan sebagian pengalaman sebagai kenangan pribadi.

Unggahan mesra bukan ukuran pasti kebahagiaan

Pasangan yang sering pamer kemesraan di media sosial bisa saja benar-benar bahagia. Namun, unggahan tersebut juga tidak otomatis membuktikan bahwa hubungan mereka lebih harmonis dibandingkan pasangan yang jarang tampil bersama di dunia maya.

Jumlah likes, komentar positif, atau pujian seperti “relationship goals” juga tidak dapat menjadi tolok ukur kualitas sebuah hubungan.

Pada akhirnya, media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Hubungan yang sehat lebih banyak ditentukan oleh komunikasi, rasa saling menghargai, kepercayaan, dan kemampuan menjaga privasi.

Karena itu, jangan menjadikan tampilan hubungan di media sosial sebagai standar kebahagiaan. Kehidupan bersama pasangan tetap lebih penting untuk dinikmati daripada sekadar terlihat bahagia di hadapan publik. (*)

Baca Juga :  Hasil Piala Dunia 2026: Inggris Ditahan Ghana 0-0, Harry Kane Buang Peluang Emas

Berita Terkait

4 Kebiasaan Pasangan Bahagia yang Bisa Membuat Hubungan Tetap Harmonis
Suami yang Baik Bukan Harus Sempurna, Ini Cara Membangun Rumah Tangga Penuh Cinta
Cara Mengembalikan Semangat Hidup Saat Merasa Hampa, Ini Langkah Sederhananya
Benarkah Wanita Selalu Benar? Ini Kata Psikolog
Wanita Mengajak Menikah Duluan, Lumrah Kah? Ini Penjelasan Psikolog
Benarkah Pernikahan Paling Rawan di Tahun Ketujuh? Ini 5 Fase yang Perlu Diketahui
Perselingkuhan di Tempat Kerja Bisa Berawal dari Kedekatan, Ini Cara Mencegahnya
10 Ciri Pasangan Mulai Bosan dalam Hubungan, Kenali Tandanya

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Dorong Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Cegah Korupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru